Senin, 02 September 2024

GUNUNG BAWAKARAENG

Ada beberapa keyakinan tentang wali di Gunung Bawakaraeng, yaitu: 
 
Wali Tujuh (wali pitue) tidak pernah meninggal, melainkan hanya tidak menampakkan diri dan kini berdiam di puncak Gunung Bawakaraeng 
 
Nabi Khaidir juga bersemayam di Gunung Bawakaraeng 
 
Gunung Bawakaraeng merupakan tempat pertemuan para wali 
 
Gunung Bawakaraeng memiliki makna spiritual yang besar bagi masyarakat Muslim setempat. Masyarakat sekitar percaya bahwa Gunung Bawakaraeng adalah Gunung Mulut Tuhan, karena Bawa berarti Mulut dan Karaeng berarti Tuhan. 
 
Salah satu tradisi yang dilakukan di Gunung Bawakaraeng adalah tradisi "Naik Haji". Tradisi ini dilakukan pada tanggal 9-10 Dzulhijjah, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha dan bulan haji. Orang-orang yang turun dari Gunung Bawakaraeng disebut "Haji Bawakaraeng". 
 

WALI PITUE / WALI TUJUA

Al-Qur’an menjelaskan: “Allah pelindung (waliyu) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir, pelidung-pelindung (auliya) mereka ialah syetan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257)

1. Syeck Yusuf (Toanta Salamaka),
2. Petta Lasinrang (Petta Lolo),
3. Arung Palakka (Petta to malampe      gemmena),
4. KH. Harun,
5. Pettabarang,
6. Imam Lapeo,
7. Dt. Sangkala

Berikut salah satu Wali Allah dari Sulawesi Selatan.

SYECH YUSUF

Syech Yusuf (toanta Salamaka) Seorang Penyebar agama Islam dari tanah Mekkah sampai Banten, Petta Lasinrang Seorang Raja dari Tanah Pinrang yang arif nan bijak sana dan gencar menyebarkan agama islam. yang terpenting Beliau Pemberani, Arung Palakka Seorang Raja Bone yang bisa membebaskan Masyarakat Bone dari penindasan oleh kerajaan Gowa dan beliau di Juluki Sang Pembebas, KH. Harun beliau berasal dari Kerajaan Tallo, Petta Barang atau petta To risappae konon beliau mallajang diatas kudanya dan penunggu kudanya hingga sekarang masih ada. beliau adalah keturunan raja Barru yang kuat akan agama, Imam Lapeo : seorang imam di desa lapeo yang sederhana dan menyebarkan agama islam sampai ketanah bugis. sering memperlihatkan mukzisat dari sang Kuasa, dan Dt. Sangkala.

Merekalah ke tujuh wali yang diyakini oleh Masyarakat sulwesi selatan. Selain itu terdapat beberapa wali lagi yang di yakini oleh masyarakat Indonesia yakni Wali songo, dan Wali Pitu yang berada di Bali. yakni Mas Sepuh Raden Raden Amangkuningrat di Kabupaten Badung, Chabib Umar Bin Maulana Yusuf Al Magribi di Tabanan, Chabib Ali Bin abu Bakar Bin Umar Bin Abu Bakar Al Khamid di Klungkung, Chabib Ali Zaebal Abidin Al Idrus di Karangasem, Syech Maulana Yusuf Al Baghdi Al Magribi di Karangasem, The Kwan Lie di Buleleng, dan Chabib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih di Jembrana.

Syeikh Yusuf Makasar pembela dan penjunjung kebenaran - Syahdan, di Negeri Tallo, pada 13 Juli 1626 M atau bertepatan 8 Syawal 1036 H, muncul dari langit cahaya terang benderang menyinari negeri itu hingga Negeri Gowa. Maka, gemparlah masyarakat Gowa melihat cahaya itu. Mereka pun berangkat ke Tallo menceritakan serta mencari tahu fenomena luar biasa yang terlihat di Gowa. Namun orang Tallo tak tahu apa-apa. Yang mereka tahu, di negerinya telah lahir seorang anak bernama Yusuf. Kisah yang tertoreh dalam lontara Riwayakna Tuanta Salamaka ri Gowa (RTSG) itu menggambarkan kelahiran seorang ulama besar yang juga termasyhur sebagai sufi dan pejuang bernama Asy-Syaikh al-haj Yusuf Abu al-Mahasin Hidayatullah Taj Al-Khalwati al-Makasari atau Syekh Yusuf. Syekh Yusuf, menurut Abu Hamid dalam bukunya Syekh Yusuf: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang lahir dalam masyarakat yang kompleks dan penuh dinamika. Saat itu, peperangan tengah berkecamuk di antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dan terjadi persaingan melawan kompeni Belanda yang tengah sibuk berebut jalur perdagangan. Suasana keagamaan juga berada dalam masa transisi, sehingga kepercayaan lama dan Islam masih bercampur-baur.

Asal-usul ulama besar itu memang tak dapat dipastikan kebenarannya, karena bersumber dari cerita dan legenda. Menurut lontarak RTSG versi Gowa, ibu Syekh Yusuf bernama Aminah puteri Gallarang Moncongloe dan ayahnya seorang tua yang tak diketahui asal kedatangannya. Orang tua itu dikenal sebagai orang suci yang konon mempunyai banyak keramat. Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam Jilid IV meyebutkan ayah Syekh Yusuf bernama Abdullah.

Setelah 40 hari kelahiran Yusuf, Aminah dipersunting Raja Gowa setelah diceraikan suaminya. Yusuf dan sang ibu pun berpindah ke istana. Nabilah Lubis dalam bukunya Syekh Yusuf Al-Taj Al-Makari:Menyingkap Intisari Segala Rahasia menyebutkan, `'Yusuf bukanlah seorang bangsawan. Dia diangkat oleh Sultan Alaudin dan dibesarkan di istana Sultan, namun tak pernah mendapat gelar kebangsawanan.''

Yusuf kecil dibesarkan dalam kehidupan Islami. Selepas mengkhatamkan Alquran dari gurunya Daeng ri Tasammang, ia menimba ilmu sharaf, nahwu, mantik dan beragam kitab dari Syed Ba' Alwy bin Abdullah al-Allamah Thahir di Bontoala. Dalam waktu singkat, Yusuf belia sudah menguasai dan tamat mempelajari kitab-kitab fikih dan tauhid.

Sejak kecil, ilmu tasawuf begitu membetot perhatiannya. Sebagain besar perhatiannya tercurah pada ilmu yang kelak mengantarnya sebagai seorang guru besar. Dianggap telah cakap, pada usia 15 tahun Yusuf disarankan untuk menimba ilmu di negeri lain. Yusuf muda pun berguru pada Syekh Jalaludin al-Aidit pun di Cikoang, selatan Sulawesi Selatan.

Rasa ingin tahunya yang begitu besar tentang ilmu-ilmu keislaman mengantrakannya ke luar negeri. Tepat pada 22 September 1644, saat Kerajaan Gowa dipimpin Sultan Malikussaid, di usia 18 tahun, ia meninggalkan tanah kelahirannya menuju Makkah menumpang kapal Melayu dari Somba Opu.

Delapan hari mengarungi lautan, Yusuf kemudian singgah di Banten. Di tanah para jawara itu, Yusuf muda yang supel berkenalan dengan ulama, ahli agama dan pejabat. Yusuf bersahabat dengan Pengeran Surya, putera mahkota Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir. Kelak, Pangeran Surya menjadi, Sultan Ageng Tirtayasa.

Ia begitu tertarik dengan Syekh Nuruddin ar-Raniri, seorang ulama kondang yang bermukim di Aceh. Syekh Yusuf menemui Syekh Nuruddin dan berguru sampai mendapat ijazah tarekat Qadiriyah. `'Tarket Qadiriyah saya terima dari Syekh kami yang alim, arif sempurnadan menyatukan antara ilmu Syariat dengan ilmu Hakikat, penghulu kami Syekh Nuruddin Hasanji bin Muhammad Hamid Al-Quraisyi ar-Raniri,'' ungkapnya dalam risalah Safinat an-Naja.
Lima tahun sudah Yusuf berkelana di Banten dan Aceh. Timur Tengah, kini menjadi tujuan berikutnya. Bertolak dari Pelabuhan Banten, Syekh Yusuf akhirnya sampai ke Timur Tengah. Yaman adalah negeri pertama yang dikunjunginya. Ia berguru pada Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi sampai mendapat ijazah tarket Naqsyabandi.

Di negeri itu pula, Syekh Yusuf mendapat ijazah tarekat al-Baalawiyah dari Syekh Maulana Sayed Ali. Setelah menunaikan ibadah haji di Makkah, ia kemudian menemui Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani di Madinah hingga mendapatkan ijazah tarekat Syattariyah. Empat ijazah yang telah digengamnya masih belum dirasa cukup. ia pun mengunjungi Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi. Ijazah tarekat Khawatiyah pun kembali digenggamnya dan mendapat gelar Tajul Khalwati Hadiyatullah.

Di usia 38 tahun, Syekh Yusuf akhirnya kembali ke Gowa dan telah menjadi seorang guru yang besar. Menurut sumber lontara, sesampainya di kampung halaman Syekh Yusuf begitu kecewa, Gowa telah berubah. Nabilah Lubis dalam bukunya mengutip sumber sejarah yang bersifat separuh dongeng menuturkan pada masa itu syariat Islam seolah-olah telah dikesampingkan, maksiat dan kemungkaran merajalela.

Setelah tak berhasil meyakinkan Sultan untuk melaksanakan kembali Syariat Islam, Syekh Yusuf meninggalkan Gowa menuju Banten. Pada 1664, Banten pun telah berubah. Sahabatnya, telah menjadi Sultan bergelar Ageng Tirtayasa. Ia kini didaulat sebagai ulama tasawuf dan syekh tarekat. Dalam sekejap, namanya sudah termasyhur, karena keluhuran ilmunya.

Sebagai sufi, Syekh Yusuf juga dikenal memiliki kepribadian yang menarik. Ia dipercaya mendidik anak-anak Sultan di bidang agama Islam dan membuka pengajian bagi penduduk. Sejumlah karya mengenai ajaran tasawuf ditulisnya di Banten.

Banten pun berubah ketika Pangeran Gusti - putera mahkota Banten yang kemudian mendaulat menjadi Sultan Haji -- tiba dari Makkah. Kompeni Belanda mulai menghasut Pangeran Gusti untuk memberontak pada sang ayah. Maret 1682, pertempuran antara kompeni Belanda yang mendukung Sultan Haji dan Sultan Ageng pun meletus. Syekh Yusuf dan Sultan Ageng serta Pangeran Purabaya bahu membahu melawan kompeni.
Setahun kemudian, Sultan Ageng ditangkap kompeni setelah ditipu anaknya. Perjuangan belum habis. Syekh Yusuf memimpin 5.000 pasukan termasuk 1.000 orang dari Makassar bersama Pangeran Purabaya mengobarkan perang gerilya. Pasukan yang dipimpinnya bergerilya hingga ke Karang dekat Tasikmalaya. Pada 1683, Syekh Yusuf ditangkap Belanda di Sukapura.

Awalnya, ia ditahan di Cirebon dan Batavia (Jakarta). Pengaruhnya yang begitu besar dianggap membahayakan kompeni Belanda. Ia dan keluarga kemudian diasingkan ke Srilanka, bulan September 1684. Di tempat baru itu, Syekh Yusuf memulai perjuangan baru, menyebarkan agama Islam.

Di Srilanka, ia bertemu dengan para ulama dari berbagai negara Islam. Salah satunya adalah Syekh Ibrahim Ibn Mi'an, ulama besar dari India. Ia pula yang meminta Syekh Yusuf untuk menulis sebuah buku tentang tasawuf, berjudul Kayfiyyat Al-Tasawwuf.

Syekh Yusuf pun leluasa bertemu dengan sanak keluarga dan muridnya di negeri Srilanka. Kabar dari dan untuk keluarganya, ia terima dan sampaikan melalui jamaah haji singgah di Srilanka. Lewat jalur itu, ajarannya sampai kepada muridnya. Belanda kembali kebakaran jenggot dan menganggap Syekh Yusuf masih mejadi ancaman. Pengaruhnya masih begitu besar, meski berada jauh dari tanah kelahiran.

Guna menjauhkan pengaruh Syekh Yusuf di Tanah Airnya, Belanda membuangnya ke Afrika Selatan. Bulan Juli 1693 adalah kali pertama bagi Syekh Yusuf dan 49 pengikutnya menginjakkan kaki di Afrika selatan. Mereka sampai di Tanjung Harapan dengan kapal De Voetboog dan ditempatkan di daerah Zandvliet yang kemudian dikenal dengan Madagaskar.

Ulama Besar dengan Enam Makam
Berada di tanah buangan tak meyurutkan semangat Syekh Yusuf untuk berdakwah. Terlebih, waktu itu Islam di Afrika Selatan (Afsel) tengah berkembang. Adalah Imam Abdullah ibn Kadi Abdus Salaam atau lebih dikenal dengan julukan Tuan Guru yang lahir di Tidore pelopor penyebaran Islam di negara itu.

Dalam waktu singkat, Syekh Yusuf pun telah mengumpulkan banyak pengikut. Awalnya, ia memantapkan pengajaran agama bagi pengikutnya. Kemudian, syiar Islam diserukannya kepada orang-orang buangan yang diasingkan ke Kaap. Mereka kemudian bersatu membentuk komunitas Muslim. Hingga kini, di Cape Town terdapat 600 ribu warga yang memeluk agama Islam.

Meski Syekh Yusuf telah wafat pada 23 Mei 1699 di usianya yang ke-73 tahun, pengaruh Syekh Yusuf di Afsel hingga kini masih sangat besar. Mantan Presiden Afsel, Nelson Mandela menyebut Syekh Yusuf sebagai 'salah seorang putera Afrika terbaik'. Bahkan, Presiden Afsel, Thabo Mbeki berencana menganugerahkan gelar pahlawan nasional bagi Syekh Yusuf. Pemerintah Indonesia telah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1995.

Guna mengenang Sang Guru, bangunan bekas tempat tinggalnya di Afsel dijadikan bangunan peringatan yang diberi nama 'Karamat Syaikh Yusuf'. Meski Syekh Yusuf tak dimakamkan di Afsel, hingga kini bangunan peringatan itu masih tetap dikunjungi warga Afsel yang mengagumi dan menghormati Tuan Guru.

Jenazah Syekh Yusuf dimakamkan dibawa ke Gowa oleh Belanda setelah diminta Sultan Abdul Jalil. April 1705, kerandanya tiba di Gowa untuk kemudian dimakamkan di di Lakiung keesokan harinya. `'Makam Syekh Yusuf yang sebenarnya berada di Lakiung, Sulawesi Selatan,'' ujar sejarawan Prof Anhar Gonggong, kepada Republika, saat berziarah ke makam Syekh Yusuf beberapa waktu lalu.
Pengaruhnya yang begitu besar, membuat masyarakat di wilayah yang pernah disinggahi Syekh Yusuf meyakini ulama besar itu dimakamkan di tempat mereka. Selain di Makassar, pemakaman Syekh Yusuf juga dapat diyakini berada di Banten; Pelambang, Sumatera Selatan; Srilanka dan di Talango, Madura. Makam-makam itu, hingga kini masih tetap didatangi para peziarah. Meski telah berpulang empat abad lalu, kemasyhuran dan keluhuran akhlak serta ilmu Syekh Yusuf hingga masih tetap dikenang.

Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf
Berbagai tarekat telah dikuasai Syekh Yusuf selama berguru di Timur Tengah. Menurut Martin Van Bruinessen,sepulang ke Nusantara, Syekh Yusuf justru mengajarkan tarekat Khalwatiyah, bukan tarekat Qadariyah. Tarekat itu dipelajarinya dari Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi di Damaskus.

Dari sang guru, Syekh Yusuf mendapat gelar Tajul Khalwati Hadiyatullah. Tarekat Khalwatiyah justru diambil dari kata 'khalwat', yang berarti menyendiri untuk merenung. Konon, nama itu dikarenakan seringnya Syekh Muhammad Al-Khalwati, pendiri Tarekat Khalwatiyah, melakukan khalwat di tempat-tempat sepi.

Tarekat Khalwatiyah merupakan cabang dari Tarekat Az-Zahidiyah, cabang dari Al-Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah, yang didirikan oleh Syekh Syihabuddin Abi Hafs Umar as-Suhrawardi al-Baghdadi (539-632 H). Tarekat Khalwatiyah berkembang secara luas di Mesir. Ia dibawa oleh Musthafa al-Bakri (lengkapnya Musthafa bin Kamaluddin bin Ali al-Bakri as-Shiddiqi), seorang penyair sufi asal Damaskus, Syiria.

Di Indonesia, Tarekat Khalwatiyah disebarkan Syekh Yusuf. Penyebaran tarekat Khalwatiyah Yusuf di Sulawesi Selatan mulai dikenal sejak adanya peran yang dimainkan Syekh Abdul Fathi Abdul Bashir al-Dhahir al-Khalwati yang lazim disebut Tuang Rappang I Wodi. Tuang Rappang berguru tarekat itu dari Syekh Yusuf, sejak di Makkah dan banten.

Syekh Yusuf menganugerahkan ijazah dan mengangkatnya sebagai khalifah untuk menyebarkan tarekat Khalwatiyah di Sulawesi Selatan. Awalnya, penyebaran tarekat Khalwatiyah Yusuf berlangsung di kalangan bangsawan, dan secara berangsur-angsur diterima pula rakyat kebanyakan.

Kelompok tarekat itu kemudian tersebar di berbagai kampung dan secara bersama mereka melakukan ibadah zikir khaafi (suara kecil) di rumah dan tempat ibadah. Dalam Tarekat Khalwatiyah dikenal adanya sebuah amalan yang disebut Al-Asma' As-Sab'ah (tujuh nama), yakni tujuh macam dzikir atau tujuh tingkatan jiwa. Hingga kini, tarekat Khalwatiyah Yusuf itu masih tetap eksis di Sulawesi Selatan.

Karaeng Galesong Ngamuk Setelah Nikahi Putri Trunojoyo, Rebut Surabaya dan Gresik dari Mataram


Karaeng Galesong adalah pahlawan dari Kerajaan Gowa yang dikenal pantang menyerah melawan VOC. Selain bangsa eropa, Galesong juga tercatat dalam sejarah berhasil menghancurkan istana Mataram di Plered. Galesong meski tidak berumur panjang, dikenang sejarah sebagai salah satu putera terbaik Nusantara dari pulau rempah-rempah.

Ya, Karaeng Galesong adalah harta berharga Kerajaan Gowa (Makassar, Sulawesi Selatan). Ia adalah putra Sultan Hasanuddin, tapi bukan putra mahkota. Galesong adalah putra keempat sultan dari istri yang bernama I lo’mo Tobo. Saat masih berusia muda, Galesong sudah sering diterjunkan dalam peperangan untuk meredam pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa. Bakatnya sebagai ahli strategi dan panglima perang sudah terasah sejak usia belia.

Nama asli Karaeng Galesong adalah I Manindori. Nama gelar lengkapnya adalah Karaeng Galesong Karaeng Tojeng. Selain ahli seni perang, Galesong adalah kesatria gagah perkasa yang menguasai ilmu pengetahuan tinggi. Galesong adalah nama sebuah daerah Kerajaan Gowa di bagian selatan. Galesong adalah daerah yang makmur dan menjadi lumbung pangan Kerajaan Gowa.

Empat tahun setelah Perjanjian Bongaya ditandatangani pada 1671, Karaeng Galesong memutuskan pergi meninggalkan tanah leluhurnya. Ia pergi mengembara berlayar ke arah barat untuk menyusun strategi dan melanjutkan perlawanan melawan Belanda, bangsa asing dari eropa yang sangat ia benci.

Kekalahan Kerajaan Gowa atas Belanda tidak menyurutkan mental Galesong melanjutkan perjuangan. Dari Gowa, Karaeng Galesong berhasil mendarat bersama rombongannya di Pelabuhan Banten pada Oktober 1671. Tujuan kedatangan Karaeng Galesong ke Banten adalah untuk membantu perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa melawan VOC. Pertempuran yang terjadi antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan VOC dikenal sebagai Perang Banten.

Di tengah berlangsungnya Perang Banten, Raden Kajoran mertua dari Raden Trunojoyo dari Madura yang sedang mempersiapkan pergerakan melawan Sunan Amangkurat I dari Kesultanan Mataram, datang untuk meminta bantuan. Raden Kajoran kemudian memohon agar Karaeng Galesong mau membantu Trunojoyo melawan VOC di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Pada masa itu, di wilayah Jawa Timur terdapat dua penguasa besar dan disegani, yaitu Sri Susuhunan Prabu Tawangalun II di Blambangan dan Panembahan Maduretno Pangeran Trunojoyo di Sampang, Madura. Sudah sejak lama kedua penguasa besar ini saling bantu untuk melawan VOC. Mereka berdua juga sama-sama menjadi incaran penguasa Mataram Sri Susuhunan Amangkurat I.

Kedatangan Karaeng Galesong di Jawa Timur disambut baik oleh Trunojoyo dan Tawangalun. Trio ini kemudian mengadakan pertemuan di Kedhaton Keraton Sampang. Mereka bersatu padu melanjutkan perlawanan terhadap kerajaan Mataram dan Belanda pada 1676-1679. Trunojoyo secara terang-terangan menyatakan diri berpisah dengan Kerajaan Mataram. Trunojoyo kemudian resmi mendeklarasikan diri sebagai Raja Madura dengan dukungan Sunan Giri dan Raden Kajoran.

Hubungan Galesong dengan Trunojoyo semakin dekat dan pada akhirnya menjadi keluarga. Galesong jatuh cinta dengan putri Trunojoyo yang berparas jelita. Trunojoyo suka dengan pribadi Galesong, ia mengambil Galesong sebagai menantunya.

Menginjakkan kaki di pulau garam, Galesong yang cerdas dan tampan dalam waktu singkat langsung menjadi perhatian di kalangan orang-orang Madura. Ketampanan dan kharisma Galesong memikat hati putri cantik dari Madura yang bernama Maduretno. Maduretno tak lain adalah putri dari Trunojoyo.

Maduretno dan Galesong diam-diam saling jatuh cinta setelah sang pangeran Gowa berkunjung ke Keraton Sampang. Di sisi lain, Trunojoyo sangat ingin menjodohkan putrinya dengan Galesong. Trunojoyo yakin, Galesong akan jadi suami yang baik bagi putrinya.

Maduretno yang cantik itu sangat berbahagia ketika mendapat panggilan dan kabar dari ayahnya. Sang ayah, Trunojoyo memanggil sang putri untuk menanyai apakah ia mau dinikahkan dengan Galesong, sang putri tidak menolak dan hatinya berbunga-bunga. Di tempat lain di markas pasukan Makassar di Demung, Galesong yang gagah perkasa sedang murung dan banyak melamun. Galesong sedang kasmaran, ia terbayang-bayang dengan wajah cantik dan senyum manis kembang gula dari Madura, putri Maduretno.

Kegalauan Galesong mendadak sembuh seketika saat kedatangan utusan pembawa kabar dari Sampang. Utusan itu mendatangi Galesong di Demung. Dengan agak gugup, utusan menyampaikan kepada Galesong bahwa penguasa Madura yaitu Trunojoyo ingin menikahkan Galesong dengan putri Maduretno.

Mendengar kabar itu, hati dan otak Galesong bagai tersambar petir. Senyum mengambang di bibir Galesong, ia langsung memerintahkan utusannya untuk mempersiapkan pernikahannya.

Upcara pernikahan dilaksanakan begitu cepat. Setelah mengucapkan ijab qabul, Karaeng Galesong sah menjadi menantu Pangeran Trunojoyo. Upacara pernikahan dilaksanakan pada siang hari dan disaksikan oleh tamu-tamu dari seluruh Madura. Pernikahan ini kemungkinan berlangsung di sekitaran tahun 1675. Pasangan ini kemudian melahirkan seorang anak yang lahir pada 1677.

Selain murni perjodohan, ada versi lain terkait pernikahan Galesong dengan putri Maduretno. Sumber itu menyatakan Trunojoyo berkenan menikahkan putrinya dengan Galesong dengan syarat sang Pangeran Gowa merebut Surabaya dan Gresik dari kekuasaan Mataram. Galesong sepakat dengan apa yang diinginkan Trunojoyo, keduanya pun melakukan perjanjian.

Sesuai dengan perjanjiannya dengan Trunojoyo, Karaeng Galesong kemudian mengerahkan pasukannya untuk menyerang wilayah Jawa yang dikuasai Amangkurat I. Tak tanggung-tanggung, empat pelabuhan laut berhasil direbut pasukan Makassar. Empat pelabuhan itu adalah daerah dengan penduduk yang banyak yaitu Pasuruan, Panjarakan, Gombong dan Gerongan. Serangan ini kemungkinan berlangsung pada bulan-bulan terakhir tahun 1675.

Galesong yang berstatus pengantin baru benar-benar trengginas. Dalam waktu singkat ia Surabaya digempur dari berbagai penjuru. Kota-kota sebelah selatan, timur diserang dalam waktu yang begitu cepat oleh pasukan Makassar. Pasukan Makassar tak punya lelah, tempat-tempat di sebelah utara dan barat kota pelabuhan itu jadi sasaran serangan berikutnya.

Penduduk Surabaya begitu ketakutan dan mengungsi ke Gunung Giri. Keadaan semakin memburuk bagi Mataram. Tanggal 7 Desember 1675, Gresik dikabarkan telah musnah dan jatuh ke tangan pasukan Makassar. 

Selang beberapa hari kemudian melalui surat tertanggal 28 Desember 1675, Residen Belanda di Jepara mengabarkan bahwa kota pelabuhan Surabaya telah hancur. Sebanyak 7.000 hingga 8.000 orang Jawa di Surabaya mengungsi ke hutan.

Pasukan Makassar yang dendam dan ingin mengancurkan VOC membakar Gresik dan Surabaya. Wilayah kekuasaan Trunojoyo pun semakin luas. Selain Sampang, Trunojoyo dengan kemenangan ini juga menguasai Sumenep, Arosbaya, Sedekari, Gembong, Gedongbatu, Pasuruan dan daerah sekitarnya.

Lepasnya Gresik dan Surabaya ke tangan Karaeng Galesong membuat Amangkurat I marah.Menurut sumber-sumber Jawa, penyebab kekalahan dari serangan ini adalah ketidakhadiran penguasa lokal ketika terjadi pertempuran. Pada waktu itu, penguasa daerah setempat sedang berada di ibukota Mataram di Plered (Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta).

Selanjutnya di tahun-tahun berikutnya setelah peristiwa ini, Karaeng Galesong bersama Trunojoyo kemudian menyerang Mataram dan VOC dengan mengerahkan pasukan gabungan dari Madura, Makassar, dan Surabaya yang berkekuatan 9.000 prajurit. Perlawanan ini cukup fenomenal, pada Oktober 1676, pasukan Mataram dan Belanda berhasil dikalahkan dalam Pertempuran Gegodog yang diikuti dengan serangkaian kemenangan di pihak Trunojoyo dan Karaeng Galesong.

Serangan Galesong bersama pasukan dari Makassar ini merupakan sejarah baru bagi Kerajaan Mataram dan Kerajaan Gowa. Sebelumnya di zaman Sultan Agung, Kerajaan Mataram dan Kerajaan Gowa sangat kompak dalam menjalankan pemerintahan untuk melindungi rakyat dan memerangi kezaliman. Dua kerajaan ini juga sama-sama membenci Belanda. Dua kerajaan ini juga sama-sama pemeluk islam yang taat. Hingga masa akhir pemerintahan Sultan Agung, persekutuan yang dijalin dua kerajaan ini benar-benar tepelihara dengan baik.

Kerajaan Mataram dan Kerajaan Gowa terus berhubungan, komunikasi itu diantaranya dilakukan dengan saling berkirim surat. Pada 1644 utusan Mataram untuk Kerajaan Gowa dibalas dengan surat-surat dan banyak hadiah.

Sayang, hubungan baik yang dijalin dua kerajaan besar ini pada akhirnya meredup di zaman Sunan Amangkurat I, Raja Mataram berikutnya yang menggantikan Sultan Agung. Pada 1646, tidak ada lagi utusan Kerajaan Gowa yang datang ke Mataram. Retaknya hubungan kedua kerajaan ini bisa jadi adalah kompeni.

Sultan Agung dikenal sebagai raja yang sangat anti Belanda, tapi tidak dengan Amangkurat I. Sang raja penerus yang naih tahta di usia muda itu dikenal menjalin perdamaian dan bersahabat dengan kompeni. Sikap Amangkurat I ini membuat orang-orang Gowa jadi tidak menyukai Mataram. Berbanding terbalik dengan Mataram, Kerajaan Gowa dibawah Sultan Hasanuddin tetap konsisten, Belanda tetap dianggap sebagai musuh yang harus dibinasakan.

Melihat mulai retaknya hubungan kedua kerajaan itu, Van Goens duta Belanda untuk Mataram memprovokasi Amangkurat I untuk mengibarkan genderang perang dengan Kerajaan Gowa. Van Goens meyakinkan Amangkurat I, bahwa Mataram pasti bisa menaklukkan Gowa dan menjadikan kerajaan di pulau rempah-rempah itu sebagai bawahan Mataram. Namun hasutan itu tak dihiraukan Amangkurat I.

Van Goens tidak menyerah meski hasutannya tidak ditanggapi oleh sang raja. Ia terus meyakinkan Amangkurat I untuk mengibarkan perang untuk menaklukkan Kerajaan Gowa. Bahkan dengen pede Van Goens mengatakan Mataram akan jadi kerajaan terbesar di dunia jika berhasil mengalahkan Gowa. Sayang, Amangkurat I tetap tidak tertarik dengan mimpi-mimpi yang diucapkan Van Goens.

Mataram semakin mesra dengan VOC, sedangkan Kerajaan Gowa perlahan-lahan berhasil dikalahkan oleh penjajah dari eropa. Kalahnya Kerajaan Gowa di pulau rempah-rempah ternyata bukan akhir dari perang antara Gowa dengan Belanda. Yang terjadi berikutnya justru adalah serangan putra Kerajaan Gowa yang membuat Mataram berada di titik kehancuran. Sang penakluk Mataram dari Kerajaan Gowa itu adalah Karaeng Galesong.

Karaeng Galesong, salah satu putera terbaik Kerajaan Gowa itu wafat setelah tiga tahun menaklukkan Mataram. Ia tutup usia di usia 24 tahun pada 21 November 1679 di daerah Ngantang Kabupaten Malang. Ada catatan kuno yang menyatakan Galesong wafat di Kediri. Memang pada masa itu Ngantang adalah wilayah Kabupaten Kediri dan saat ini masuk dalam wilayah administrative Kabupaten Malang. Galesong wafat sekitar dua bulan sebelum Trunojoyo menyerah dan tewas di tangan pasukan gabungan VOC dan Mataram.

Kematian Karaeng Galesong sendiri ada banyak versi. Ada yang mengatakan ia meninggal karena sakit dan ada pula yang menyatakan ia tewas dibunuh oleh pasukan gabungan Belanda dan Mataram.

Makam Karaeng Galesong di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur itu hingga kini ramai dikunjungi banyak orang. Banyak pejabat keturunan Makassar yang berziarah ke tempat ini, satu diantaranya adalah mantan Wapres RI Jusuf Kalla.